SELAMAT DATANG DI BULETIN ONLINE FK-PONTREN

20 Jul 2015

Dosa Tidak Menutup Aurat, Tidak Bisa Dihapus Dengan Pahala Apapun!

Buletin online Fk-Pontren
20 Juli 2015

Bagi anda yang masih suka membuka-buka aurat di depan umum mungkin anda belum tahu betapa banyak manfaat yang bisa anda dapatkan dengan menutup aurat anda. Menutup aurat yang baik adalah dengan menggunakan pakaian yang tidak memperlihatkan kulit bagian aurat, tidak memperlihatkan betuk tubuh yang menarik bagi lawan jenis, tidak tembus pandang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kaum wanita menyangka jika tidak memakai jilbab “hanyalah” dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan. Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al-Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya: “Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.”

Sebagaimana kita ketahui, memakai jilbab bagi kaum wanita adalah hukum syariat Islam yang digariskan Allah dalam surat An-Nur ayat 59. Jadi kaum wanita yang tak memakainya, mereka telah mengingkari hukum syariat Islam dan bagi mereka berlaku ketentuan Allah yang tak bisa ditawar lagi, yaitu hapus pahala shalat, puasa, zakat dan haji mereka.

Sikap Allah di atas ini sama dengan sikap manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai terlambang dari peribahasa seperti: “Rusak susu sebelanga, karena nila setitik”. Contohnya, segelas susu adalah enak diminum. Tetapi jika dalam susu itu ada setetes kotoran manusia, kita tidak membuang kotoran tersebut lalu meminum susu tersebut, tetapi kita membuang seluruh susu tersebut.

Begitulah sikap manusia jika ada barang yang kotor mencampuri barang yang bersih. Kalau manusia tidak mau meminum susu yang bercampur sedikit kotoran, begitu juga Allah tidak mau menerima amal ibadah manusia kalau satu saja perintah-Nya diingkari.

Di dalam surat Al A’raaf ayat 147, Allah menegaskan lagi sikapNya terhadap wanita yang tak mau memakai jilbab, yang berbunyi, “Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, juga mendustakan akhirat, hapuslah seluruh pahala amal kebaikan. Bukankah mereka tidak akan diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan?”

Kaum wanita yang tak memakai jilbab didalam hidupnya, mereka telah sesuai dengan bunyi ayat Allah diatas ini, hapuslah pahala shalat, puasa, zakat, haji. (sebarkanlah)

15 Jul 2015

Matahari Tepat di Atas Ka'bah di Hari Terakhir Ramadhan

Buletin Online Fk-Pontren
KOMPAS.com — Kamis (16/7/2015)

hari terakhir Ramadhan (bila Lebaran jatuh pada 17 Juli 2015), Matahari akan tepat berada di atas Kabah. 

Peneliti di Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rukman Nugraha, peristiwa itu menjadi momen yang tepat bagi umat Islam di Indonesia untuk menyesuaikan arah kiblat.

Rukman menjelaskan, peristiwa tahunan itu adalah efek dari gerak semu tahunan Matahari, dari ekuator menuju 23,5 derajat lintang utara dan berbalik lagi ke 23,5 derajat lintang selatan. 

Kabah sendiri berada di 21,25 derajat lintang utara. Jadi, wilayah Kabah selalu dilewati Matahari dalam pergerakan menuju titik balik utara serta titik balik selatannya, dua kali dalam setahun.

"(Tahun ini) waktunya adalah 28 Mei, yaitu saat Matahari bergerak ke titik balik utara, dan 16 Juli, saat Matahari bergerak kembali ke arah selatan dari titik balik utaranya," kata Rukman.

Peristiwa Matahari berada tepat di atas Kabah bisa menjadi momen tepat untuk menyempurnakan arah kiblat sebab arah bayangan benda tegak (misal tongkat atau tiang) yang terbentuk saat itu bisa menjadi petunjuk arah kiblat.

"Saat kita menarik garis dari titik ujung bayangan ke pangkal benda tegak tersebut, itulah arah kiblat yang tepat," kata Rukman kepadaKompas.com, Selasa (14/7/2015).

Syarat utama untuk dapat melakukan penyesuaian arah kiblat adalah Matahari masih bersinar alias hari masih terang. Lusa, Matahari akan berada di atas Kabah pada pukul 16.27 WIB. Jadi, hanya warga Indonesia barat saja yang bisa menyesuaikan arah kiblat pada hari itu.

Saat Matahari di atas Kabah pada lusa, wilayah Indonesia tengah sudah senja dan di Indonesia timur Matahari sudah tenggelam.

Bagi warga Indonesia barat yang ingin menyesuaikan arah kiblat, beberapa langkah perlu dilakukan. Langkah pertama adalah menyesuaikan waktu dengan waktu menurut jam atom yang teradapat di BMKG. Waktu bisa diakses pada http://jam.bmkg.go.id

Selanjutnya, umat Islam bisa menggunakan alat tegak lurus dan meletakkannya pada permukaan yang lapang dan datar. Alat ini bisa berupa bandul yang digantung, tiang pancang, atau dinding bangunan yang benar-benar tegak lurus terhadap tanah.

Lalu, lakukan proses kalibrasi sejak lima menit sebelum waktu yang ditentukan oleh jam atom
hingga lima menit sesudahnya.

Tahap akhir, lihat arah bayangan yang terbentuk. Tarik garis dari ujung bayangan hingga ke posisi alat. Garis yang ditarik itulah arah kiblat yang tepat, yang sudah dikalibrasi dengan posisi Matahari saat tepat berada di atas Kabah.

Nantikan peristiwa Matahari di atas Kabah yang akan jatuh pada hari terakhir Ramadhan 1436 Hijriah ini dan mari sesuaikan arah kiblat.

11 Jul 2015

ISLAM NUSANTARA Menurut Prof Dr H Muhibbin MAg

Buletin online Fk-Pontren
Oleh: Prof Dr H Muhibbin MAg
Rektor UIN Walisongo
Pada tanggal 2 Juli 2015

Akhir akhir ini muncul istilah Islam nusantara yang membuat sebagian orang memperbincangkannya, bahkan ada yang cukup serius serta khawatir seolah kemunculannya sebagai sebuah agama baru di Indonesia. Sesungguhnya nama Islam nusantara tersebut digagas untuk memberikan label kepada Islam yang hidup di nusantara yang menyatu dan dapat berdaptasi dengan budaya local dengan tanpa mengusirnya.  Namun karena namanya saja itulah yang membuat orang kemudian menafasirkan yang bukan bukan.
Islam itu ya Islam  sebagaimana diajarkan oleh Rasul Muhammad saw, yakni Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang tidak identic dengan local tertentu, seperti Arab atau Indonesia, dan lainnya.  Prinsip Islam itu harus dapat diaplikasikan  dimana saja dan kapan saja.  Sebagai contoh  bahwa Islam itu menjunjung tinggi keadilan, persamaan, toleran, kemanusiaan dan lainnya, maka meskipun  di daerah asal  muncylnya Islam, kalau sudah tidak lagi sesuai dengan rpinsip prinsipnya, maka  sesungguhnya  bukan lagi islam yang hakiki. 
Sebaliknya meskipun islam tidak berada di daerah asal munculnya, tetapi kalau prinsip prinspnya  dapat berjalan dengan baik, maka itulah Islam yang hakiki.  Hal tersebut disebabkan Islam itu tidak bersifat local, melainkan universal.  Islam sebagaimana yang dikembangkan oleh para wali yang Sembilan di tanah Jawa, merupakan kombinasi antara prinsip Islam dengan ,local wisdom dan dapat terus tumbuh dengan suburnya, karena memang tidak ada perbedaan yang substansial.
Itulah barangkali yang dimaksudkan dengan Islam nusantara, yakni  cerminan Islam yang sangat ramah terhadap lingkungan, terhadap alam, terhadap perbedaan dan tidak memaksakan kehendak. Bahkan lebih menonjolkan kesamaan  daripada perbedaan  dengan semua hal. Kalau demikian sesungguhnya Islam nusantara itu identic dengan Islam hakiki sebagaimana yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, sehingga justru itulah yang benar dan tidak perlu dicurigai atau dituduh sebagai ajaran dan agama baru.
Dengan  begitu persoalannya  hanyalah penamaan semata dan bukan dalam hal yang substansial. Justru substansinya  malah lebih kental dengan islam hakiki dan jauh dari kesan perbedaan dengan apa yang dibawa dan dikembangkan oleh para ulama tempo dulu.  Kita memang tidak  sependapat dengan  pernyataan bahwa Islam itu identic dengan Arab, karena  banyak hal yang terkait dengan Arab tetapi justru tidak sesuai dengan ajaran inti islam.
Kita sangat menyadari bahwa Islam itu memang  lahir di tanah arab, kita suci al-Quran juga diturunkan dengan Bahasa Arab, bahkan konon Bahasa  di surge nanti juga menggunakan Bahasa Arab.  Namun ajaran Nabi, yakni Islam itu bukan  hanya untuk orang Arab semata, melainkan untuk seluruh  alam, sehingga substansi Islam itu tidak identic dengan Arab, melainkan  sebuah entittas tersendiri yang tidak dipengaruhi oleh local maupun waktu.
Islam itu dapat hidup dan tumbuh di manapun, karena semua yang baik pastilah dapat bersanding dan bahkan bergandengan tangan dengan Islam.  Artinya semua yang bermuara kepada kemaslahatan, baik bagi kemanusiaan, alam lingkungan dan hubungan antara makhluk itulah hakekat Islam.  Walaupun tyentu ajaran Islam itu bukan abstrak melainkan ada wujud nyata yang harus dipertahankan dan dilaksanakan oleh para pemeluknya.
Prinsip ajaran shalat, zakat, hajji, puasa Ramadlan dan sejenisnya itu  tidak dapat ditawar dan diganti dengan  bentuk lain, karena  semua itu ada hikmah dan tujuan yang jelas.  Sedangkan untuk kepentingan hubungannya dengan kepentingan manusia  dalam hal mempertahankan kehidupannya di dunia, sudah barang tentu Islam hanya  memberikan prinsip perinsipnya saja, sedangkan rinciannya diserahkan sepenuhnya kepada masing masing umat sesuai dengan kondisi local dana lam lingkungannya.
Jadi isyu tentang Islam nusantara yang saat ini sedang dibicarakan tersebut secara substansial tidak bertentangan dengan Islam hakiki sebagaimana dibawa dan diajarkan oleh nabi Muhammad  saw dan para ulama. Tuduhan sementra pihak yang belum mendapatkan penjelasan maksud dari Islam nusantara bahwa  Islam nusantara itu merupakan  ajaran baru atau bahkan agama baru atau  ajaran yang ingin menyaingi  Islam Arab dan banyak lagi tudingan lainnya, tidak perlu diteruskan.  Sebaiknya kita memang berdialog tentang penamaan tersebut agar jangan lagi ada salah paham diantara umat muslim.
Barangkali mereka yang selama ini meyakini bahwa Islam yang benar adalah Islam yang berada di tanah Arab, meskipun tidak lagi  selaras dengan prinsip Islam hakiki, sangat perlu diajak rembukan tentang  persoalan ini.  Artinya harus ada  pemahaman yang disampaikan dari pihak yang menggagas Islam nusantara tersebut kepada semua umat.  Perlunya  diskusi tersebut ialah untuk tetap menjaga kesejukan umat muslim di negeri kita saat ini yang meskipun tampak damai, tetapi sepertinya menyimpan sesuatu yang potensial untuk meletus.
Sudah barang tentu kita tidak menginginkan bahwa Islam itu pecah sehingga memberikan kesan yang buruk kepada dunia, atau bahkan dapat memberikan justifikasi  bagi mereka yang sementara  ini sudah mempunyai pemikiran buruk tentang ajaran islam.  Kita sangat menyadari bahwa  masih ada sementara pihak yang masih memandang Islam dari sisi praktek orang yang mengaku sebagai muslim dan ternyata prakteknya jauh menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad saw  sendiri.
Memang amat disayangkan mereka yang tidak melihat dari sisi ajaran yang benar, semisal melihat  isi kandungan al-Quran dan praktek para ulama yang selama ini sangat bagus dan selalu membawa angina kesejukan dalam kehidupan mereka. Atau memang  sengaja  mereka membidik  islam untuk dijerumuskan kepada kesan negative dengan menyebarkan  praktek umat muslim yang tidak sejalan dengan ajaran agama mereka, wallahu a’lam.
Manurut saya  Islam yang hakiki sesungguhnya sudah selesai, karena sudah sangat jelas ukirannya dan referensinya.  Sosok pembawa ajaran tersebut, yakni nabi Muhammad saw  yang sangat dihormati, baik oleh kawan maupun yang memosisikan diri sebagai lawan adalah bukti bahwa  sang pembawa ajaran tersebut sungguh  sangat luhur budi pekertinya, sangat tulus dalam perbuatannya, sangat toleran dengan perbedaan, dan lebih mementingkan  persatuan dan perdamaian ketimbang peperangan.  Bahkan beliau tidak pernah  dendam terhadap siapapun yang telah berbuat tidak adil kepadanya.
Tetapi kenapa hal tersebut tidak dijadikan sebagai refernsi  oleh umat muslim sendiri dan malahan pihak lain yang menjadi teladan mereka.  Karena itu kalau kita membicarakan tentang ajaran Islam yang sesungguhnya, seharusnya kita kembali kepada al-Quran dan Sunnah Nabi yang  valid.  Terjemahan dari keduanya kedalam praktek bermasyarakat tentu harus dilihat sebagai sebuah penafsiran yang dapat saja diantara satu daerah satu dengan lainnya bebeda.  Hanya saja prinsipnyalah yang  harus sama.  Dengan Bahasa lain bahwa substansi harus sama, sedangkan  sarana dan wadahnya dapat berbeda, atau tujuannya sama tetapi caranya  dapat berbeda.
Hal  terpenting yang harus kita ketahui  ialah bahwa islam itu mempunyai ajaran prinsip yang berlalu sepanjang zaman dan tidak boleh diubah atas  dasar pertimbangan apapun, seperti ajaran tauhid dengan syahadatain yang tidak boleh diubah sepanjang masa.  Demikian  juga dengan  perintah untuk menjalankan shalat lima waktu, ajaran untuk berzakat, ajaran untuk berpuasa di bulan Ramadaln dan ajaran tentang ibadah haji.  Namun sebagaimana  kita tahu  Islam juga mempunyai ajaran yang hanya disampaikan prinsip prinsipnya saja, seperti tentang keadilan, tentang kemanusiaan, tentang persamaan, tentang toleransi dan lainnya.
Karena itu sekali lagi Islam itu satu, dan kalaupun kemudian ditambah menjadi Islam  nusantara atau nama lain, sepanjang  tidak menjadikan nya sebagai sebuah ajaran baru yang lain dari Islam hakiki, menurut saya tidak masalah.  Hanya saja diperlukan sosialisasi mengenai tujuan dan  alasannya, sehingga masyarakat tidak menjadi  bingung.

8 Jul 2015

Pemuda Atheis Bertanya Tentang Allah Kepada Pemuda Muslim

Buletin online Fk-Pontren
Kiriman: Syamsuri Hasan, M.Hi (Dosen IAI Nurul Jadid dan Guru Senior MAK Nurul Jadid)

Ada seorang Atheis yg memasuki sebuah masjid, dia mengajukan tiga pertanyaan yg hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jila menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa...pertanyaan atheis itu adalah :
1. Siapa yg menciptakan Allah?? Bukankah semua yg ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??
2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal....
3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??
Tidak ada satupun yg bisa menjawab, kecuali seorang pemuda. Ada yg berkata bahwa dia adalah Imam Abu Hanifah muda. Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :
1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2??
Atheis itu diam membisu..
"Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??"
2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??
3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab :
"Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga twrbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??
Sang athies itu ketiga kalinya terdiam...
Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan meledek agama kita kita harus hadapi dengan kekerasan. Pemuda tadi tidak mencabut pedang, tidak pula teriak-teriak 'atheis goblok..!' ' la'natullah' terkutuk' dan sebagainya...
Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengtahuan luas, berfikiran bebas...tapi tidak liberal...tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah...

7 Jul 2015

Kisah Sang Raja dan Seorang Pelayannya

Buletin online Fk-Pontren
Kiriman: Syaiful (Polsek kec. Tambelangan)

​Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan muslim, yang ​dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: "Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Alloh adalah sempurna, Ia tak pernah salah."

​Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan. 

​Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, "Kalau Alloh itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!" 

​Pelayan tersebut menjawab, "Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Alloh itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah." 

​Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, ​sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: "Alloh adalah baik dan sempurna adanya." 

​Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban. 

​Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa ​sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka. 

​Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: "​Temanku.. Alloh sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku." 

​Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. "Kalau Alloh itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?

​Sang pelayan menjawab: "Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap."
 
​Semua yang direncanakan Alloh adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif

Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Alloh setiap saat. 

semoga kita bisa selalu ikhlas dan ridho dgn segala taqdir. yang Alloh berikan... krn rencana Alloh adalah yang terbaik buat kita....

4 Jul 2015

Profesor India menyatakan Nabi Muhammad adalah Nabi Umat Hindu

Buletin online fk-Pontren

Dikutip dari Media Isnet, yang mengutip dari Aktualita Dunia Islam no 58/II Pekan III/februari 1998. Versi bahasa Inggris berjudul : Pundit verifies Messenger(PBUH) was foretold

Seorang professor bahasa dari Allahabad University di Indonesia dalam salah satu buku terakhirnya berjudul "Kalki Autar" (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu. 

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. Pundit Vaid Parkash (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana dan ahli bahasa Sansekerta itu mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri "Kalky Autar" sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw yang lahir di Makkah. 

Prof. Parkash menguatkan pernyatannya itu dengan mengutip beberapa hal dari kitab Veda (Weda), kitab suci agama Hindu. 

Menurutnya, dalam kitab Weda, sosok 'Kalki autar' akan menjadi Pembawa Risalah Terakhir atau Prophet of Bhagwan (Allah) untuk menuntun seluruh dunia. Itu hanya terjadi dalam kasus Nabi Muhammad Saw. Menurut ramalan Hindu, 'Kalki autar' akan lahir di sebuah Jazeerah (Island) dan itu di wilayah Arab yang dikenal sebagai 'jazeeratul Arab'. 

Dalam kitab 'suci' Hindu, menurut Prof. Parkash, bapaknya bernama "Vishnu Bhagat" dan ibunya bernama "Somanib". Dalam bahasa Sansekerta, 'Vishnu' berarti Allah (swt) dan arti harfiah dari kata 'Bhagat' adalah hamba atau budak, dalam bahasa Arab berarti "Abdun". Oleh karena itu, 'Wisnu Bhagat' dalam bahasa Arab berarti Abdullah (hamba Allah). Sedangkan,'Somanib' dalam bahasa Sansekerta berarti damai (aman) dan tentram yang dalam bahasa Arab berarti kata 'Aminah'. Dan sebagaimana diketahui bahwa ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah dan ibundanya bernama Aminah.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa 'Kalki autar' akan lahir di kaum yang dihormati dan mulia ditanahnya. Dan ini juga berlaku dalam kasus Nabi Muhammad (saw) karena ia lahir di suku Quraisy yang dihormati di Makkah.

Disebutkan pula bahwa 'Kalki Autar' akan diajarkan dalam sebuah gua oleh Bhagwan melalui utusan-Nya sendiri. Hal itu mengingatkan kisah Nabi Muhammad Saw dalam gua Hira' saat didatangi oleh malaikat Jibril dan mengajarkannya tentang wahyu Islam pertama kali. 

Tertulis dalam buku-buku Hindu bahwa Bhagwan akan memberikan 'Kalki autar' dengan kuda tercepat dan dengan bantuan kuda itu, ia akan naik di seluruh dunia dan tujuh langit. Ini isyarat tentang 'Buraq' dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw. 

Selain itu, ditulis pula bahwa 'Kalki autar' akan diperkuat dan dibantu oleh Bhagwan. Dalam kasus Nabi Muhammad (saw), beliau dibantu dan diperkuat oleh Allah (SWT) melalui malaikat-Nya dalam perang Badar.

BULETIN ONLINE