SELAMAT DATANG DI BULETIN ONLINE FK-PONTREN

11 Mar 2016

Pengasuh Asholatiyah Deklarasikan Persatuan Alumni Madrasah Asholatiyah Mekkah di Madura

sumber: KH. Muhammad Kurdi (PP. al Mubarok Lanbulan)

kedatangan Syekh Majid Sa'id Masud Pengasuh Madrasah Asholatiyah Mekkah ke indonesia satu kebanggaan tersendiri bagi para ulama dan kyai yang pernah belajar di Madrasah assolatiyah mekkah. kehadiran beliau adalah untuk menjalin silaturrahim dengan para alumni khususnya di indonesia.
kedatangan beliau juga bertujuan untuk mendeklarasikan keinginan para alumni untuk mengadakan program pertemuan para alumni assolatiyah yang berasal dari negara indonesia yang tersebar diseluruh nusantara. Atau disebut ittihadud khirijil almadrasah  assholatiyah (Persatuan alumni almadrasah assholatiyah) insya rencana pertemuan alumni ini akan dilaksanakan setiap tahun tutur KH. Izzat eraqi, Lc disaat menyampaikan dalam sambutannya dalam acara deklarasi yang dilaksanakan di halaman Pondok Pesantren Duwe Pote Kota sampang 10 Maret 2016 kemarin.
dengan adanya program ini adalah sebuah bukti nyata rasa cinta kepada guru kami yakni syekh majid said masud. dan semoga nanti dengan deklarasi yang sudah di restui oleh beliau agar dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. kata KH. muhammad kurdi selaku ketua panitia. dan rencananya syekh akan kembali ke mekkah pada hari minggu ini.
Dan salah satu dari sekian banyak alumni Madrasah sholatiyah yang berasal indonesia yang sudah tidak asing lagi adalah KH. Hasyim Asy'ari pendiri organisasi yang masykur dan terbesar yakni Nahdhotul Ulama (NU) Dan alumni2 dari madrasah tersebut yang tidak lagi asing bagi kita..adalah hadrotusy syaikh hasyim asy'ari,pendiri syekh Mustofa Husain Pendiri Pondok Pesantren al Musthofawiyyah Medan maulana as-syaikh tuan guru Zainuddin Abd Majid pendiri nahdhatul wathon yang masyhur di lombok NTB nusa tenggara barat juga Syaikh Thohir pendiri jam'iyyah athohiriyyah Jakarta. beliau beliau adalah alumni as sholatiyah mekkah yang menjadi ulama besar dan berpengaruh di Indonesia.

red. Mochamad Khotib

3 Mar 2016

Hakim di Jornadia mencium tangan terdakwa


By Muchlisin BK -  February 26, 2016

Pengadilan di negara Arab Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.

Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, Guru.”

Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.

Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tersebut mengerti benar, pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.

Peristiwa yang terjadi di Jordania pada pekan lalu dan dimuat di salah satu surat kabar Malaysia ini sesungguhnya merupakan pelajaran berharga bagi kita semua sebagai orangtua. Meskipun kita tidak tahu persis kejadiannya secara detil, tetapi ada hikmah yang bisa kita petik bersama.

Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah memukul kita. Saat kita mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orangtua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani.

Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua.

Lalu saat kita menjadi orangtua di zaman sekarang… tak sedikit berita orangtua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Hingga menjadi sebuah fenomena, seperti dirilis di Kabar Sumatera, guru-guru terkesan membiarkan siswanya. Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai.

Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya. Sudah beberapa guru di Sumatera Selatan dilaporkan walimurid hingga harus berurusan dengan polisi.

Semoga tulisan ini, menginspirasi para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru. Kita bersinergi untuk menyiapkann  generasi masa depan generasi berakhlak, menjadi pejuang sunnah yang tangguh di masa yg akan datang. Amiin.. Amiin ya robbal alamiin

BULETIN ONLINE