SELAMAT DATANG DI BULETIN ONLINE FK-PONTREN

9 Feb 2015

Hanya Karena Koin Penyok

Buletin Online Fk-Pontren
Oleh: KH Saiful maslul zahid
PP. Darut Tauhid Rapalaok Omben
Sampang

Seorang lelaki berjalan dengan gontai entah dia hendak kemana.
Kondisi kantongnya lagi kering, dia memang termasuk orang miskin bahkan tempat tinggalnyapun hanya beratap jerami dan beralas tikar lusuh.
Tapi dia tidak pernah mengeluh bahkan dia menikmati kehidupan yg bahagia dg keluarganya.

Tapi saat ini dia benar-benar lagi tidak punya apa-apa namun dia tetap berusaha tersenyum walau senyumnya terlihat agak hambar.

Saat dia menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk & menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok." batinnya.

Meskipun begitu ia membawa koin tsb, ke bank. "Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno saja pak", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai Rp.125.000

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 100 rb untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Sisa uang 25 rb dia taruh di sakunya untuk beli makanan buat anak istrinya dirumah.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari harga 300 rb untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya 400 rb. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 500 rb. Lelaki itupun setuju lalu dijualnya lemari tsb dan dia menerima uang 500 rb dari wanita itu.

Diapun menuju pulang diperjalanan dia bertemu dengan tim pencari infaq untuk pembangunan sebuah surau untuk tempat mengaji anak-anak desa.
Dengan senang hati uang 25 rb yang tadi dia taruh di sakunya dia amalkan dan setelah itu dia lanjutkan lg langkah kakinya menuju pulang.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan jumlah uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 500 rb Alhamdulillah gumamnya.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang dari tangan lelaki itu, lalu perampok itu kabur.

Istri dan anak2nya kebetulan melihat dan berlari mendekatiny dan bertanya,

"Apa yang terjadi?
Engkau baik-baik saja kan?
Ayah tidak apa-apa kan?
Tanya mereka dengan resah.

Terus apa yang diambil perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata sambil tersenyum,
"Oh, bukan apa-apa kok. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan di jalan tadi pagi".

Dan lelaki itupun pulang tetap dg kantong kosong. Tapi hatinya sangat bersyukur krn dalam perjalanannya hari itu dia sudah sempat menyimpan dalam surau tempat mengaji anak-anak desa Alhamdulillah.
*************

Begitulah
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yg telah kita beri sekecil apapun, karena sebenarnyalah ketika kita datang & kita pergi kita tidak membawa apa-apa.

Menderita karena terpedaya.
Bahagia karena tak merasa memilikinya.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, Apa sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Sebetulnya yg kita punya adalah sesuatu yg telah kita simpan utk ahirat kita.
Karena bersama hal tersebut kelak kita akhirnya kan bersama.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Dari hidup - mati dan akan hidup lagi. Itulah kehidupan abadi.

Saat kehilangan sesuatu janganlah bersedih. Kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan menyakitkan kita.

Kehilangan hanyalah sebuah tipu pikiran yang penuh dengan ke"aku"an.
Ke"aku"an lah yang membuat kita bersedih dan menderita.

Rumahku, hartaku, milikku..

Padahal saat kita datang ke dunia ini tidak membawa apapun begitu juga saat kita meninggalkannya.

Pada waktunya "let it go",

Jadi intinya siapapun yang tidak terpedaya bisa melepas dengan rela,

Sadar bahwa kita bukanlah pemiliknya semua hanya titipan dan semua milik yang empunya.

Dg hati yg nerima (qona'ah) maka dimanapun & dalam kondisi apapun kita pasti akan bahagia

Smg bermanfaat

Tidak ada komentar:

BULETIN ONLINE