SELAMAT DATANG DI BULETIN ONLINE FK-PONTREN

18 Apr 2015

Ada Dua Fakta Menyebutkan Bahwa Sumatera dikenal Sejak Zaman Rasulullah SAW.

Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib.

Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa.

Adalah Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas yang menyebutkan bahwa Pulau Sumatera dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Ini tertuang dalam bukunya berjudul “Historical Fact and Fiction”.

Ilmuwan yang lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim yang  menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur. Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning.

Metode ini, kata dia, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, apalagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang digunakan untuk menyebutkan bahwa Sumatera dikenal sejak zaman Rasulullah SAW.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah SAW menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari.

Hikayat Raja-Raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:

“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah Salla’llahu ‘alaihi wassalama, tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka Sabda ia pada sahabat Baginda di Mekkah, demikian Sabda Baginda: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wata’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya, tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis.

BERSAMBUNG---》》》

Tidak ada komentar:

BULETIN ONLINE