Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian di antara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan Kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.
Bahkan, sekian di antara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia Tenggara, kala itu.
Bahkan, beberapa di antaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.
Alasan kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Alquran. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi.
Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.
Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.
Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatera.
Dengan demikian, tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatera telah dikenal oleh Rasulullah SAW dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (Pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.
Wallahu'alam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar