SELAMAT DATANG DI BULETIN ONLINE FK-PONTREN

21 Nov 2014

Jaga Persatuan, karena Perbedaan Pasti Ada Hikmahnya

Buletin online FK-Pontren
Sampang, 21 November 2014

Di akhir- akhir ini,  kita sering mendengar dan melihat begitu  banyak perbedaan yang justru melupakan semangat persatuan dan kesatuan.  Koalisi yang satu bilang "kamilah yang benar dan kami pula yang kuat",  yang satu lagi   I'tiraf "kamilah yang pro rakyat".  Keduanya tak henti hentinya membesar- besarkan perbedaan hingga lupa pada mandat yang telah diamanatkan. Dalam hadist Nabi, begitu seringnya baginda menjelaskan akan pentingnya  bahu membahu, saling menghargai, berusaha untuk mencari titik kesamaan daripada ngotot mencari kelemahan dan kekurangan.  Manusia Hidup takkan lepas dari perbedaan, yang penting bagaimana kita belajar agar  tetap bersatu dan saling menghargai pendapat orang. Imam as-Syafi'i RA, seperti yang kita ketahui,  memahami hadist yang memberi isyarat bahwa di anjurkannya "berqunut"  saat sholat subuh, sementara imam Ahmad yang kebetulan adalah santri beliau, memahami hadist lain yang  justru mengisyaratkan untuk tidak melakukan "qunut" di saat sholat subuh. perbedaan antara keduanya, tak lantas  menjadikan sang guru  itu harus mengucilkan si santri, begitu pula dengan si santri, tak lantas harus menjahui sang guru, keduanya bisa berdampingan walau terdapat garis perbedaan, hal tersebut cukup jelas tatkala keduanya kompak melaksanakan sholat  subuh bersama, sang guru menjadi imam, sedang  si murid menjadi makmum. Saat sang imam melakukan solat subuh beliau dengan sengaja meninggalkan yang ia yaqini, yaitu "berqunut" hanya untuk menghargai keyakinan si makmum,  dengan demikian, terjalinlah ikatan emosional yang baik yang dapat membuahkan suatu kekompakan dan  kebersamaan  guna  menggapai suatu tujuan.
Negeri kita yang amat  besar dan penuh aneka ragam suku, budaya dan kepecayaan, dapat meraih kemerdekaan Lantaran buah hasil dari perjuangan para pejuang-pejuangan kita yang mengedepankan pentingnya  "kebersamaan" dari pada membesar-besarkan perbedaan. Untuk itu, Yang muda haruslah belajar menghargai yang lebih tua, yang lebih tua pun harus mengasihi yang lebih muda, Ar rois (  pemerintah) harus selalu bepihak dan mengasihi pada Al- marus (rakyat), sebaliknya Al-mar'us harus mentaati kebijakan  yang diambil oleh Ar-rois (  pemerintah) sehingga terciptalah kedamaian, keamanan dan saling membangun rasa kepercayaan antara keduanya sehingga tercapailah  target "Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur". Sesuai dengan sunnatullah telah ditetapkan bahwa dalam setiap bentuk makhluk yang diciptakan ilahi, pasti ada yang memimpin(rois) dan ada yang dipimpin (mar'us), ada yang mengatur dan ada yang diatur, hal itu seperti pendapat al-Gholayain, agar keinginan tidak bersimpang siur yang mengakibatkan keretakan kerukunan, mengakibatkan putusnya tali kasih sayang, pudarnya persatuan, dan munculnya perselisihan.
Dalam sebuah hadis dijelaskan,"Aku berwasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah, serta taatlah pada pimpinan (Pemerintahan) walau kalian dipimpin oleh seorang budak yang berkulit hitam." HR. Abu Dawud dan Tirmidzi.
Dalam hadist diatas, ada dua hal penting dari wasiat baginda,
PERTAMA: Meningkatkan ketakwaan kepada Allah yang akan membawa seorang hamba menjadi beruntung dengan jaminan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
KEDUA: mentaati seorang pemimpin selama tidak memerintahkan hal-hal yang bertentangan dengan Agama, hal tersebut agar hak-hak rakyat terpenuhi, serta mampu menyatukan bermacam-macam pendapat serta mewujudkan keamanan dan kedamain, yang pada akhirnya tercapailah apa yang kita idam-idamkan yaitu negeri yang penuh damai dan Tuhan yang Maha Penganpun
(baldatun toyyibah wa-robbun ghofur).

Oleh: KH. Sholehuddin Syam
Meteng Omben Sampang Madura
-Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mustofa, Meteng Omben Sampang Madura
-Ketua FK-PONTREN

Tidak ada komentar:

BULETIN ONLINE